Selasa, 12 Juni 2012

TEOLOGI SEBAGAI ILMU

PENDAHULUAN
Berbicara mengenai ilmu, berarti kita membicarakan “sesuatu” yang sifatnya multidisipliner. Salah satunya adalah Teologi sebagai Ilmu. Berbicara mengenai Teologi sebagai Ilmu, merupakan hal yang “gampang-gampang, susah” maksudnya kita dituntut harus cermat dalam mengembangkan pemikiran tersebut, karena pada “pembuktiannya” kita akan diperhadapakan dengan berbagai multidisipliner ilmu. Sehingga “secara tidak langsung” menuntut kepada kita untuk dapat mempertanggungjawabkan ilmu yang kita pahami/”dalami” untuk mendapatkan pengkuan bahwa teologi itu dapat disebut sebagai ilmu.
Namun demikian dalam pembuktiannnya kita jangan melepaskan peranan sejarah serta iman kita. Sebab ketika kita melepaskan peranan sejarah serta iman kita kepada Yesus Kristus maka kita tidak dapat memahami apa yang sesungguhnya kita cari (dalam hal ini teologi sebgai ilmu). Tulisan ini, akan memuat tentang Pengenalan Singkat Mengenai Sejarah Ilmu;  Ilmu Pengetahuan, Teologi dan Iman; pada bagian akhir tulisan ini dikemukakan suatu kesimpulan  tentang teologi sebagai ilmu.
Oleh karena itu penulis optimis bahwa tulisan singkat berikut ini, “setidaknya” dapat memberikan wawasan tentang teologi sebagai ilmu, bagi sidang pembaca.


 Bagian I
Bagian ini  meruupakan pengantar untuk memasuki pada bagian kedua, sekaligus untuk melihat kembali sejarah ilmu dahulu yang terus berkembang sampai pada saat ini, termasuk didalamnya  adalah ilmu teologi.

MENGENAL SECARA SINGKAT SEJARAH ILMU
(Disadur  dari buku Filsafat Ilmu; sejarah dan ruang lingkup bahasan,
oleh Jerome R. Raverts)
               
Kemunculan science Eropa dianggap bermula dari para filsuf negara-negara kota Yunani yang mendiami pantai dan pulau-pulau Mediterranian Timur, diakhir abad ke 6 dan ke 5 SM. Sebagai contohnya adalah ucapan Thales yang dikenal sebagai filsuf tertua. Thales berpendapat bahwa “Semuanya Adalah Air”. Dari pandangan tersebut menjelaskan bahwa filsafat Yunani Kuno lebih berminat pada penjelasan tentang fenomena dunia pencerapan inderawi (perceptual world) dari pada mengajukan pemikiran/pandangan praktis, mereka melakukannya dengan mengutamakan sebab-sebab dari pada pelaku-pelaku pribadi, meskipun sebab-sebab tersebut berasal dari analogi yang terdapat dalam pengalaman berkarya dan perilaku manusia (seperti prinsip-prinsip kosmisnya Empedokles tentang “cinta dan pertentangan”). Dalam perkembangannya ada suatu tradisi yang terjadi, yakni; aliran Phytagorean yang secara eksplisit menjadi sifat relegius. Aliran ini berusaha menemukan kunci bagi harmoni universal, baik yang bersifat alamiah maupun sosial, dan personalitas bilangan, yang dilihat sebagai susunan titik-titik terbentuk adalah bukti yang sangat penting. Zeno dan Parmenides adalah filsuf Eleatis, menggunakan suatu analisis konseptual yang canghih untuk mendukung filosofis yang menyatakan kesatuan eksistensi yang tak berubah. Plato yang hidup di awal abad ke 4 SM, adalah seorang filsuf earliest (paling awal/paling tua). Ia merupakan seorang  propagandis matematika yang sangat berpengaruh. Dalam republik ia beragumen bahwa geometri mempersiapkan pikiran untuk perbincangan dealektis tentang ide-ide yang nyata (the real ideas), dimana benda-benda inderawi tak lain dari pada bayang-bayangnya, dan dari sana menuju kebijaksanaan dan penerangan (illumination). Aristoteles (sekitar abad ke 4), adalah serang filsuf yang minatnya pada bidang alamiah dan manusia, termasuk etika dan metafisika. Melalui pengamatan yang akurat dan teorisasi yang disiplin, ia menciptakan sebuah ilmu biologis dan sebuah taksonomi yang banyak mirip dengan ilmu yang kita gunakan sekarang. Dalam peradaban Romawi, masalah-maslah ilmiah didiskusikan dengan serius dikalangan orang Romawi hanya dalam hubungannya dengan filsafat-filsafat yang berbasis etis. Dua aliran yang terkenal pada zaman ini adalah Stisme dan Epikureanisme, yang pandangannya bahwa manusia harus bijaksana dan mengajarkan kebahagiaan. Peradaban Yunani-Romawi mencapai penggenapan siklusnya (± thn 1000). Pada setengah perjalanan abad ini, khususnya di Eropa sering juga disebut Abad Gelap. Di awal abad ke 11, sebagian besar orang terpelajar memahami ilmun kuno dalam cuplikan-cuplikan yang segelintir dan tercabik-cabik. Namun setelah abad ke 12, mengalami renaissance.
Kalau kita melihat Peradaban India merupakan peradaban yang tertua sampai sekarang. Ciri khas dari peradaban ini adalah kesadaran yang lebih tinggi (higher consciousness). Matematika India dengan sistim bilangan dan perhitungannya yang telah berkembang cukup tinggi, mempengaruhi aljabar Arab, juga melengkapi angka-angka utama Arab (yakni, sembilan digit dan satu angka nol dlam suatu sistim nilai-tempat). Kemudian Cina memunculkan tantangan yang lebih besar kepada sejarawan ilmu Eropa. Basis pengetahuan umumnya ialah keduniaan ini, meskipun didasarkan pada harmoni antara pribadi ketimbang keteraturan-keteraturan yang abstrak. Namun dibalik tantangan yang muncul tersebut, mempunyai sesuatu nilai yang patut dipelajari dari cara Cina Kuno yaitu perlunya pelaksanaan harmoni yang lembut antara diri individu dengan alam. Sedangkan Jepang yang selama beberapa abad merupakan jajahan kultural Cina, juga cukup mengambil andil dalam peradaban ilmu. Jepang mengalami penyingkapan singkat  dalam ilmu dan agama Barat sebelum para penguasanya di penghujung abad ke 17 memutuskan untuk menutup pintu pada pengaruh-pengaruh yang dianggap membahayakan.
Ilmu adalah ciptaan bangsa Eropa, meskipun peradaban-peradaban lain memberikan berbagai kontribusi yang penting kepadanya. Ilmu berakar dalam pemikiran masyarakat – ilmu adalah bagian penting dari proses pencapaian dominasi atas bangsa yang lemah dan hingga kini masih merupakan ujung kebiadaban dunia. Kelahiran kembali ilmu di zaman Renesans adalah dengan penemuan manusia dan alam (produk renesance yang artistik pada abad ke 15 di Italia) termasuk didalamnya ilmu seni dan teknologi. Pada abad ke 16 dan 17 para filsuf menggabungkan unsur-unsur keahlian metalurgi, ilmu kedokteran, alkimia, agama, mistik, dan perbaikan sosial, dan pada hakekatnya mereka benar-benar berhasil sebagai ahli kimia.
Pada abad ke 17 terjadi revolusi dalam Filsafat Alam – terjadi perumusan kembali yang radikal terhadap objek-objek, metode-metode dan fungsi-fungsi pengetahuanh alamiah. Objek barunya ialah fenomena yang teratur di dunia tanpa sifat-sifat manusiawi dan spiritual, metode-metode barunya merupakan penelitian yang berdisiplin dan kooperatif, dan fungsi-fungsi barunya berupa gabungan dari pengetahuan ilmiah dan kekuasaan industrial.  Zaman Revolusi ini dimulai pada abad ke 18, yang dimulai dengan ilmu selama refolusi industri.
Gerakan refolusi modern ini juga disebut Pencerahan. Pencerahan dimulai pada tahun  1730-an oleh Viltaire; dia memakai citra newton untuk menantang/melawan ortodoksi kosmologi dan fisika Descrates yang berlaku resmi pada saat itu. Gaya dominan ilmu di zaman refolusi ialah matematis. Hasil dari ilmu tersebut yang masih ada sampai sekarang adalah sistem pengukuran yang didasarkan pada satuan-satuan alamiah dan rasional. Pada zaman ini pula ditemukan elektromagnetisme (1820) oleh fisikawan Belanda yaitu Hans Christian Qrsted, yang sekarang dikenal sebagai hasil akhir penelitian penelitian.
Pada zaman ini (selama abad 18) semua jenis bidang ilmu mengalami perkembangan yang sangat pesat. Satu demi satu disiplin ilmiah mengalami kemajuan ilmiah serupa dalam pencapaian sistem-sistem yang runtut dan dalam penciptaan lembaga-lembaga aktivitas ilmiah. Pada zaman ini ilmu mengalami perluasan yang meliputi penggabungan matematika dengan eksperimen dalam fisika, penerapan teori kepada eksperimen dalam kimia, dan eksperimen yang terkendali dalam biologi.  Sedangkan pada awal masa abad 20, ilmu bersifat profesional dalam organisasi sosialnya, reduksionis dalam gayanya, dan positif dalam jiwanya, serta ilmu sudah dipandang sebagai hasil karya penyelidikan murni. Hampir semua penelitian dilakukan oleh para ahli yang dilatih dengan sangat ketat, bekerja secara total atau seperlunya untuk pekerjaan ini dalam lembaga-lembaga khusus. Gaya pekerjaan pada periode ini sebagian besar bersifat reduksionis, penyelidikan dipusatkan pada proses-proses murni, stabil, dan dapat di kontrol secara buatan yang dapat terlaksana di laboratorium. Jiwa positif ilmu ini terlihat dengan meningkatnya pemisahannnya dari refleksi filosofis, termasuk ilmu teologi.

Yang harus digaris bawahi:
Dari sejarah singkat diatas maka kita dapati bahwa ilmu terus berkembang sesuai dengan zaman yang dilaluinya. Termasuk di dalamnya adalah ilmu tentang keagamaan (Teologi). Kalau kita mencermati sejarah ilmu, maka kalau pada saat ini kita akan meninjau kembali dengan perspektif teologi maka seakan bertolak belakang. Namun demikian, itulah keunikan dari ilmu itu sendiri yang dalam perkembangannya dapat membuktikan bahwa hasil yang didapati telah melalui research/metodologi penelitian dengan memakai berbagai macam metode yang sesuai dengan kebutuhannya. Begitu pula jika kita akan memahami teologi sebagai ilmu.


Bagian II
TEOLOGI SEBAGAI ILMU DAN IMAN
Untuk menjelaskan teologi sebgai ilmu maka penulis mengemukakan beberapa pemikiran, yaitu: Pendekatan Teologi Choan Seng Song  Dan Ke-Ilmiahan Teologi, Pembaharuan Dalam Teologi Dan Dalam Pengajaran Teologi,  Teologi sebagai “wadah” pembentukan karakter  Orang Kristen.[1]

1.       Pendekatan Teologi Choan Seng Song  Dan Ke-Ilmiahan Teologi

Choan Seng Song adalah seorang teolog Asia yang berasal dari Taiwan. Song keberatan terhadap cara berpikir rasional dan pemakaian istilah-istilah konseptual mengenai Allah karena dengan metode ini Allah tidak dapat dipahami. Dalam ajaran Pneumatologi Choan Seng Song berpendapat bahwa; “satory is the work of the holly whitin spirit” – Roh Kudus menegakkan kebenaran di dalam diri manusia bukan pikiran manusia yang analitis dan konseptualistis yang menciptakannya. Karena pada prinsipnya Allah adalah  yang berbicara di dalam teologi: “logos” (Firman) dibicarakan oleh Allah dan bukan sebaliknya: manusia yang menfirmankan mengenai Allah.
Berikut ini alasan-alasan Song untuk mempersoalkan metodologi ilmiah dari teologi:
-          Metodologi rasionalistis tidak bisa “menangkap” identitas Allah karena Allah menyatakan diri dengan cara yang tidak dapat diperkirakan. Kalau alat yang digunakan salah, maka pekerjaanya juga berkurang hasilnya. Sama saja dengan teologi.
-          Allah sendiri merupakan “subjek” dari teologi, bukan manusia.
-          Konteks, tempat dan bahan teologi adalah permasalahan manusia “(problematic humanity)”; disini ditanyakan apakah perbuatan Allah di dunia ini berhubungan dengan permasalahan tersebut.
Dengan demikian dapat kita dikatakan  bahwa teologi tidak sama dengan iman dan juga tidak sama dengan “ajaran”. Teologi juga  tidak usah menjauhkan diri  dari ilmu pengetahuan dan metodologinya, bahkan sebaliknya  bahwa pendekatan Song memungkinkan teologi untuk mempertanggungjawabkan metode ilmiahnya.

  1. Pembaharuan Dalam Teologi Dan Dalam Pengajaran Teologi (DR. Tom Jacobs, SJ)

Teologi merupakan  refleksi atas iman sendiri dalam konteks tradisi, artinya dalam hubungan dengan penghayatan dan pengakuan iman seluruh umat. Inti dari teologi adalah berorientasi pada umat. Dalam bagian ini juga menjelaskan tentang bagaimana teologi itu sebagai ilmu. Sebab, pada bagian in I dijelaskan mengenai teologi praksis. Artinya bahwa teologi sudah “dikombinasikan” dengan berbagai bidang ilmu. Sehingga teologi sebagai ilmu dapat disebut dengan teologi praksis. Sehingga dalam pengajaran teologi, dapat di hubungkan – diperbandingkan dengan bidang ilmu lain sebagai bagian dari pengajaran teologi itu sendiri.
Elisabeth Schussler Fiorensa, berpendapat bahwa relasi dan interaksi anatara persekutuan orang beriman dan interpretasi Alkitabiah, semakin menjadi problematis dan sulit. Disatu pihak orang kristen mengakui Alkitab sebagai “Sabda Kudus” yang mempunyai kewibawaan ilahi untuk masa kini; di lain pihak pendalaman Alkitab melalui berbagai macam metode penelitian; historis; sosial, ekonomi, budaya, politik, seolah menunjukan bahwa Alkitab adalah sebuah buku yang penuh dengan hal-hal kompleks yang sukar dimengerti oleh orang percaya biasa. Oleh karena itu untuk menjelaskannya adalah merupakan tugas teologi itu sendiri.

  1. Teologi Praktika & Pembentukan Hidup Orang Kristen (Fowler, JW)

Teologi praktika merupakan refleksi kritis dan konstruktif atas praksis kehidupan dan karya komunitas Kristen dalam berbgai dimensinya. Teologi praktika juga sebagai  bagian dari usaha teologis yang lebih luas yang meliputi spelsialisasi dari pencarian dan konstruksi teologis yang eksegetikal, historikal, sistematik dan fundamental.
Empat unsur dasar yang yanga ada pada teologi praktika dalam rangka pembentukan karakter orang kristen;
-          Teologi praktika dalam usaha pembentukan orang kristen adalah satu dari teori mengenai kasih Allah yang penuh kuasa sebagai pola dari aksi yang mendasari dan memberi ciri kepada proses kosmik.
-          Teologi praktika juga merupakan teori perkembangan iman.
-          Teologi praktika membutuhkan teori mengenai kebijakan-kebijakan dan perasan-perasaan yang terdapat dalam kehidupan Kristen.
-          Teologi praktika juga membutuhkan teori mengenai prinsip-prinsip dan strategi-strategi metodologis bagi pembentukan dalam iman.


K E S I M P U L A N

Kalu kita melihat kembali sejarah filsafat ilmu, maka pada hakikatnya filsafat ilmu pertama-tama berusaha menjelaskan unsur-unsur yang telibat dalam proses penelitian ilmiah yaitu; prosedur-prosedur pengaatan, pola-pola argumen, metode penyajian dan perhitungan, peraandaian-peraandaian metafisik, dan sebagainya. Dari situ mereka kemudian mengevaluasi dasar-dasar validitasnya berdasarkan sudut pandang logika formal, metodologi praktis metafisika. Begitupun dengan ilmu teologi.
Oleh karena itu,  dapat dikatakan bahwa                 ilmu teologi selalu menggumuli prihal kehidupan manusia yang konkrit dalam hubungan dengan Allah, dengan kata lain masalah inti yang harus “dipecahkan” dari teologi (teolog) ialah hal beriman. Beriman tidak dapat disamakan dengan menganggap benar isi Alkitab dan dogma-dogma gereja, Melaikan “beriman atau percaya” dirumuskan sebagai aktivitas hidup manusia termasuk di dalamnya aspek “eksistensinya”: badani, rohani, psikis dan sosial dalam hubungan akrab dengan Allah dan berorientasi kepadaNya.
Kita juga dapat mengatakan bahwa; jika iman Alkitabiah tercapai, khususnya dalam penerapan pada keadaan seseorang yang sesuai gambaran Alkitabiah, maka tugas dari pada teolog adalah menghubungkan secara otentik satu dengan yang lain sebagaimana setiap orang mempelajari teologi dari sudut Alkitabiah. Rumusan doktrin tersebut harus juga berfariasi seturut dengan waktu dan komunitas. Oleh karena itu iman menuntut pada pertobatan yang benar dengan melibatkan kehidupan diri seseorang. Dasar terdalam pada pertobatan adalah tindakan Allah yang sangat bernilai memulihkan kita dengan diriNya dan tetap berpegang bahwa perdamaian yang dijanjikan Kristus diantara manusia dengan sesamaNya tak lain dari karya Allah, yang mendamaikan kita dengan dirinya.
Oleh karena itu, kita sebagai teolog harus mampu “mengekspresikan”/ berteologi dengan tepat. Dalam pelaksananya tentu harus memakai metode-metode penelitian termasuk penggabungan analisa dari bidang ilmu yang lainya, sambil tetap berorientasi pada Alkitab sebagai sumber utama. Sebagai contoh: Teologi Pastoral, yang menggabungkan ilmu psikologis yang didalamnya juga melihat latar belakang histiris, sosial, ekonomi, budaya politik, yang mempengaruhi objek pastoral.


Sumber Buku Utama:
Ravertz. J.R., FILSAFAT ILMU; Sejarah Dan Ruang Lingkup Bahasan.
  Jokjakarta: Pustaka Pelajar, 2009.
Hommes. Tj. G., TEOLOGI DAN PRAKSIS PASTORAL., Jakarta: Kanisiu, 1992.


[1] Semua tulisan dalam bagian ini disadur dari tulisan Prof. Tj. G. Hommes Th.D. Antologi Teologi Pastoral; TEOLOGI DAN PRAKSIS PASTORAL, yang diterbitkan oleh kerjasama antara Kanisius dan BPK Gunung Mulia, Jakarta 1992.

Senin, 11 Juni 2012

APA ITU POLITIK


MELIHAT KEMBALI KEBERADAAN POLITIK
(Suatu analisis sederhana Perkembangan Politik). Oleh: Mowdy Y.B. Meteng.


Text Box: “Realitas kehidupan manusia tidak terlepas dari apa yang dinamakan politik. Namun mereka tidak sadari praktik politik telah dilakukan oleh mereka. Ada  orang yang mengaku memahami apa itu pilitik, tetapi dalam prakteknya salah bertindak serta menyalahgunakan “politik” itu sendiri. Ada juga orang yang telah terjun dalam praktik politik tetapi dia tidak tahu apa sebenarnaya politik itu.”Masyarakat Indonesia merupakan suatu masyarakat yang mempunyai ideologi (lima dasar pemikiran untuk membangun Indonesia) yaitu pancasila. Pancasila dapat dikatakan sebagai dasar acuan atau peraturan kehidupan seluruh masyarakat di Indonesia. Hal ini dapat dibenarkan melalui sila-sila sebagai berikut: Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat, kebijaksanaan dan permusyawaratan dan perwakilan, Keadilan sosial bagi seluruh bangsa Indonesia.
Dengan banyaknya keanekaragaman agama, budaya, suku, ras dan golongan, maka idealisme yang terkandung dalam Pancasila sangat cocok diberlakukan di Indonesia. Namun, kalau kita melihat realita yang terjadi mulai dari masa Orde Lama, Orde Baru, dan massa Reformasi, maka dapat dikatakan bahwa pengimplikasian dari sila-sila diatas belum sepenuhnya dijalankan dengan baik. Contohnya; kebebasan memeluk agama sesuai dengan kepercayaan masing-masing, masih banyak masyarakat miskin, terjadinya kerusuhan (contoh: kasus poso, pemisahan Timor lieste, Papua Merdeka), hak upah pekerjaan yang tidak sesuai dengan apa yang dikerjakan dan harga kebutuhan kehidupanya sehari-hari, pembangaunan ifrastruktur yang tidak merata, serta masih banyak kasus yang lainya. Dengan demikian, hal ini dapat menjadi bukti bahwa ideologi yang terkandung dalam Pancasila telah di kesampingkan. Dengan banyaknya fenomena yang terjadi di bangsa ini, maka munculah figur-figur dengan ideologi memperjuangkan hak-hak rakyat, sebagai contohnya Alm. Munir, yang memperjuangkan Hak Aasi Manusia, dsb.
Seiring dengan waktu muncul pemikiran-pemikiran yang brilian oleh para pemikir perorangan ataupun kelompok, maka konsep pemikiran mereka diolah dalam suatu bentuk partisipasi politik yang secara tidak langsung menentukan kebijakan pemerintahan. Partisipasi politik sendiri dapat diartikan sebagai suatu kegiatan seseorang atau sekelompok orang untuk ikut serta secara aktif dalam kehidupan politik, dengan jalan memilih pimpinan Negara dan secara langsung atau tidak langsung mempengaruhi kebijakan pemerintah baik dipusat ataupun didaerah.
Ideologi yang muncul pada setiap partai politik mulai pudar, contohnya ialah terjadinya korupsi, kolusi, nepotisme. PARPOL bukan lagi memperjuangkan rakyat tetapi malahan memperjuangkan kepentingan PARPOL, kelompok ataupun individu itu sendiri. Contohnya; Adanya anggota legislatif yang terlibat KKN (kolusi, korupsi, nepotisme), adanya partai politik yang memperjuangkan untuk memberlakukan syairat Islam di Indonesia, mengubar janji-janji yang hanya membuat ”sorga telinga”, pembangunan infrastruktur yang tidak merata akibat kepentingan-kepentingan tertentu, serta jabatan-jabatan strategis dalam kepemerintahan dan lain-lain sebagainya.[1]
Dengan beberapa contoh fenomena yang terjadi diatas, maka dengan sendirinya masyarakat mulai memahami bahwa politik itu dipandang suatu hal yang negatif (dipandang sebagai suatu hal yang tidak layak untuk diperjuangkan, dihargai, tidak ikut serta didalamnya, suatu hal yang kotor, orang-orang yang licik).[2] Orang mulai salah memahami konsep politik yang sebesanarnya. Oleh karena itu marilah kita, memahami apa itu politik.
Politik berasal dari bahasa Yunani ”Politea” yang didalamya mengandung arti masyarakat dan kekuasaan.[3]  Menurut Drs. Inu Kencana Syafiie, politik dalam bahasa Arabnya disebut ”Siyasyah” atau dalam bahasa Inggris ”politics”; politik itu sendiri berartikan cerdik – bijaksana.[4] Kata politik sendiri dipakai dalam kepemerintahan. Meskipun demikian para ahli politik sangat susah untuk mendevinisikan secara pasti apa iti politik. Dengan demikian saya mendefinisikan ”Politik” adalah suatu kekuasaan yang diberlakukan secara bijaksana untuk diberlakukan kepada masayarakat demi kepentingan masyarakat itu sendiri. Karena politik itu bukanlah semata-mata kekuasaan, namun politik itu pengabdian.
Beberapa pandangan orang yang keliru mengenai politik:
-          Politik itu kepentingan pribadi.
-          Politik cuma untuk orang yang ambisius.
-          Politik itu mengejar uang.
-          Politik itu sesuatu yang kotor.
-          Politik itu cenderung akan melakukan KKN.
-          Politik itu hanya orang yang mencari ”Show Image”
-          Politik itu suatu hal yang
-          Politik bertentangan dengan kehendak Allah.
-          Politik itu licik.
-          Politik itu ”alat” untuk berdusta.
Dengan melihat beberapa pandangan politik yang salah diatas, maka yang menjadi pertanyaannya sekarang ialah bagaimana mengubah konsep pemahaman yang keliru itu. Untuk mengubah pemahaman yang demikian maka perlu pelaksanaan pendidikan politik; antara lain: diskusi terbuka, penerapan pendidikan politik harus dari pendidikan formal terendah sampai ke PT (perguruan tingi). Mengapa demikian? Karena kalau pendidikan politik itu diterapkan sejak dini, maka secara psikologi hal itu akan tertata dan tertanam dalam pola tingkah laku politik yang sebenarnya dan pada etika politik yang semestinya. Dan hal itu akan mengubah pandangan dan prilaku politik yang menyimpang akan menjadi prilaku politik yang sebenarnya.
Oleh karena itu marilah kita, wujudkan praktek politik yang dapat memajukan perkembangan pribadi, daerah, bahkan bangsa Indonesia.
Asal-usul dan devinisi politik.
Kata Politik bersal dari bahasa Yunani, yang dalam perkembanganya kata politik diadopsi oleh Negara-negara di dunia, termasuk bahasa Indonesia. Politik (ilmu) dapat diartikan sebgai penegetahuan mengenai ketatanegaraan atau kenegaraan (seperti sistem, dasar-dasar pemerintahan).[5] Kata poitik muncul pada zaman klasik Yunani, yaitu sebuah Negara yang pusat kotanya disebut polis. Kata polis mulai muncul dan dipahami setelah pada tahun 374 SM, Plato menulis sebuah buku mengenai “Ideal Politea” dan kemudian oleh murid-muridnya (termasuk didalamnya Aristoteles pada tahun 322 SM) menyebut karangan Plato adalah mengenai soal-soal kenegaraan politikon.
Kalau kita melihat secara terminology, istilah politik dalam bahasa Yunani  yang berhubungan erat dengan asal kata politik adalah:
-                                                             Politew          : Hidup sebagai warga masyarakat, mengurus masyarakat, manjadi politikus.
-                                                             Poliv   : Rakyat, Kota, Negara, kewargaan.
-                                                             Politeia          : Hak warga masyarakat, pengurus kota, bentuk pemerintahan, urusan Negara, konstitusi.
Dari pemahaman politik secara terminology di atas, maka  nyata bahwa pada hakekatnya poltik menyangkut kehidupan masyarakat, menyangkut semua orang, atau dengan kata lain setiap orang ketika lahir langsung terlibat dalam proses berpolitik. Berpolitik adalah tanggung jawab seruh masyarakat yang menyangkut kepentingan seluruh warga masyarkat. Partai politik adalah salah satu lembaga politik yang ada sebagai perwujudan atau sistim  untuk menata masyarakat yang adil dan makmur, sehingga politikus yang benar dan bertanggung jawab adalah orang yang memperhatikan dan menangani kepentingan seluruh warga masyarakat. Secara falsafah pengertian kata poliik merupakan  asal kata dari politiea, yang terbagi dari dua kata, yaitu polis dan alitea. “Polis” artinya wilayah, masyarakat, kota. Sedangkan “Aliteia” artinya keadilan dan kebenaran. Jadi, politik (politea) adalah suatu wilayah/kumpulan orang ynag merdeka yang menjunjung nilai-nilai keadilan dan kebenaran.[6] Politik juga mempunyai radius yang sangat luas dan menyangkut segala bidang kehidupan manusia, karena politik menyangkut kekuasaan, kebijaksanaan dan keadilan.[7]
Sejalan dengan pemahaman  politik di atas, maka  dapat ditarik kesimpulan bahwa politik adalah sesuatu yang alamiah , kehidupan kita sehari-hari , sebagai suatu kumpulan masyarakat yang bercita-cita keadilan dan kebenaran, yang dalam perwujudan cita-citanya terbentuk/dibentuk system-sistem politik, lembaga-lembaga politik. Sehingga politik juga dapat dikatan sebagai ilmu kenegaraan, seni mengatur atau mengurus Negara yang mencakup semua kebijakan/tindakan dalam urusan kenegaraan/pemerintahan.[8]
Dalam perkembangannya, politik dipahami dengan semakin luas. Politik diungkapkan dan dijalankan secara berbeda-beda yang memberi arti berbeda-beda terhadap politik itu sendiri yang sebenarnya juga adalah bagian  dari arena politik.[9] Yang kemudian Wirjono memperluas lagi bahwa Ilmu politik adalah ilmu pengetahuan atau cara menegetahui gerakan kemasyarakatan ada satu bidang politik, dimana ada sautu pergerakan masyarakat yang sangat penting, yang berupa adu kekuatan yang mencari perimbangan – kekuatan atau balance of power. Dan sebagaimana arti politik yang dihubungkan juga sebagai suatu seni, maka unsur kesenian inilah yang menyebabkan kelincahan dalam gerakan-gerakan politis, yang bersifat dinamis.[10] Sehingga benar yang dikatakan Charles Taylor bahwa kita setuju sampai batas tertentu dengan pembedaan teori yang bersifat normative dengan yang bersifat menjelaskan, dan tetap mengakui bahwa isu yang paling pokok adalah mengenai apa yang sesungguhnya terjadi dalam masyarakat.[11] Hal ini membawa kita pada pengertian bahwa masyarakat adalah dasar dan tujuan politik.
Sebagaimana yang dimaksudkan dari Sirait  dengan melihat politik Athena kuno, sebagai salah satu  Negara kota yang dianggap penting dalam perkembangan dan pemikiran (birth place) politik, maka politik akan semakin dapat dipahami bahwa dengan sesuatu yang ada didalamnya adalah dari rakyat, untuk rakyat dan oleh rakyat.

A.2. Sistim Politik.
            Politik sebagai suatu kesatuan yang bercita-citakan kesejahteraan membentuk system-sistem sebagai mana sarana pencapaian cita-cita. Adapun system politik yang dirasa relevan, yaitu :
  1. Demokrasi
Demokrasi yang paling ringkas tetapi memiliki makna yang paling dala dan terbaik diberikan Abram Lincoln melalui pidatonya di Gettysburg 1863, yakni: “government of people, by people, for the people (artinya: pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat).[12] Bagi demokrasi, tidak ada suatu kebenaran yang tidak dapat ditentang dan digugat. Demokrasi akan menjadi suatu system yang membuka debat dan diskusi untuk merumuskan pendapat bersama. Istilah musyawarah merupakan hubungan yang sangat dekat dan tidak terpisahkan dengan demokrasi. Prinsip lain yang paling mendasar dalam demkrasi adalah pengakuan terhadap kesetaraan/keadilan.
  1. Aristokarasi
Aristokrasi (Yunani: aristo, berarti the best =terbaik, dan cratos yang memerintah), prinsip yang mendasari aristokrasi adalah kesadaran tentang adanya kecakapan yang berbeda dan keyakinannya bahwa tidak semua orang dapat memerintah.berangkat dari pemahaman itu, proses yang terjadi pada suatu Negara tidak tergantung pada system tetapi pada kecakapan, kejujuran, kapasistas atau kemampuan memimpin. Dengan demikian aristokrasi percaya dan menggantungkan diri pada figure dan bukan pada system. Persoalan yang paling mendasar adalah kecenderungan manusia yang rakus, bernafsu dan mementingkan kepentingan dirisendiri.
  1. Monarki
Monarki (Yunani: monarchia, dari kata monos, artinya tunggal dan kata arche artinya memerintah. Dalam bentuk monarki yang murni, pada diri seorang raja atau penguasa mengupal supremasi kekuasaan dan kewenangan dalam pembuatan undang-undang (perkataan raja adalah hukum) pengakuan administrasi dan kekuasaan pengadilan dan karenanya ia berkuasa sangat mutlak. Pada diri seorang (raja), seluruh kehidupan masyarakat digantungkan, dank arena itu rakyat hanya senantiasa berdoa, melakukan ritus-ritus keagamaan dan berharap, supaya mereka memiliki raja yang bijaksana, adil, sehat dan mensejahterakan, system pengaturan pergantian (sukses) raja pada monarki adalah berdasarkan keturunan.[13]


IMAN KRISTEN DAN ETIKA POLITIK

Akhir-akhir ini kita sering mendengar kalimat “gereja harus berperan dalam dunia politik”. Pernyataan yang demikian bagi sebagian orang hal itu keliru. Namun dilain pihak, ada juga orang yang beranggapan gereja layak untuk masuk kedalam politik. Mengapa demikian?...
            Dalam pembahasan kali ini, politik juga dapat dikatakan sebagai seni yang bersangkut-paut dengan pengambilan keputusan/kebijakan oleh rang-orang yang berbeda kepentingannya, dimana pengambilan keputusan ini menyangkut masa depan orang banyak. Etika politik adalah kaidah-kaidak moral yang dipertimbangkan dalam proses pengambilan keputusan/kebijakan. Proses pengambilan keputusan ini banyak orang menyebutnya dengan strategi, yang tidak perlu bersifat formal tetapi lebih banyak kepada penyentuhan kegiatan kepada masayarakat atau jemaat.
            Oleh karena itu, dapat kiata membayangkan bagaimana seandainya kalau umat Kristen tidak berperan dalam mengambil suatu keputusan/kebijakan. Hal ini tentunya merupakan tanda awas bagi umat Kristen, namun tanda awas juga bagi kita umat kriten yang berperan dalam politik. Mengapa? Karena sering kali kita terbuai dengan nikmatnya kekuasaan dan kedudukan yang kita dapat.
            Ada juga umat Kristen yang terjun dalam politik, dengan landasan menjadi garam dan terang dunia (Matius 5:13, 14). Hal itu memang tidak keliru kalau hal itu memang diimplementasikan dalam praktiknya. Umat Kristen haruslah senantiasa “bernafaskan semangat Kristen” dan berbuat dengan landasan cinta kaih dan keadilan.
            Dengan demikian sebagai umat Kristen apa yang harus kita perbuat selanjutnnya? Yang akan diperbuat ialah bagaimana kita dapat mengimplementasikan kehidupan yang berlandaskan cinta kasih yang berkeadilan yang sesuai dengan batasan-batasan norma kekristenan yang diperuntukan bagi kepentingan orang banyak, bukan untuk kepentingan pribadi.
            Mudah-mudahan segala yang dipraktikan mengenai politik akan kembali dipraktikan dengan benar bagi setiap insane manusia.          










[1] Pernyataan tersebut di katakan oleh LAKSAMANA SUKARDI, dalam acara reality show “TATAP MUKA” stasiun ANTV, pada tanggal 22 Februari 2009, jam 23 – 00 WITA.
[2] Catatan dan angket penelitian mengenai konsep pemahaman politik pribadi.
[3] Pemahaman tersebut sangat berdekatan dengan seorang ahli ilmu politik Lasswell yang berpendapat bahwa politik merupakan kekuasaan.
[4] Meskipun demikian para ahli politik sangat susah untuk mendevinisikan secara pasti apa iti politik. Karena bernicara mengenai politik sangat luas bidangnya.
[5] Moelyono., Kamus besar bahasa Indonesia, (Jakarta: BPK gunung Mulia, 2001).
[6] Catatan, diskusi dengan Pdt K.H. Rondo, M.Th. 1 April 2009.
[7] Band. Varma SP., Teori Politik Modern, (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2007) hal 257.
[8] Band. Heuken Sj., Ensiklopedi Gereja, (Jakarta: Cipta Loka Karya, 2000)
[9] Saut Sirait., Politik Kristen di Indonesia, (Jakarta BPK Gunung Mulia) hal 22.
[10] Prodjodikoro W., Asas-asas  Ilmu Negara dan politik, (Jakarta: Eresco, 1981) hal 11.
[11] Christoper R., Teori Sosial dan praktek politik, (Jakarta: Rajawali, 1986) hal 93
[12] Abraham Lincoln adalah Presiden Amerika Serikat ke 16 (tahun 1863). Kemudian di menininggal pada tahun1865. Kalimat tersebut dikatakan olehnya pada waktu pidatonya selama 2 menit, setelah pidato presiden dari Negara bagian selam 2 jam.
[13] Bnd. Saut Sirait., Politik Kristen di Indonesia, (Jakarta: Bpk Gunung Mulia, 2001) hal 30-37.